Taufiq Kiemas Di Mata Tokoh Islam
Friday, February 13, 2009 by BERTO IZAAK DOKO

Selanjutnya pun yang hadir adalah nama-nama yang dekat dengan kita. Dari kalangan perempuan: Khofifah Indar Parawansa, Musdah Mulia, dan Aisyah Amini. Dari kalangan Muhammadiyah ada Syafii Maarif, Amien Rais, Din Syamsuddin, dan Moeslim Abdurrahman. Dari kalangan Nahdlatul Ulama: Hasyim Muzadi, Salahuddin Wahid, Said Agil Siroj, dan Syaifullah Yusuf. Dari kalangan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI): Akbar Tandjung dan Hadimulyo. Dari kalangan politisi: Bachtiar Chamsyah, Lukman Hakim Saefuddin, dan pimpinan Hizbut Tahrir Ismail Yusanto. Dari kalangan di luar itu ada Amidhan, Jimy Asshidiqie, dan Barlianta Harahap.
Pengelompokan seperti itu sebetulnya sangat cair. Apalagi, sebagian besar terlibat dalam pentas politik negeri ini sekalipun mereka tidak masuk kategori politisi (seperti Amien Rais dan Akbar Tandjung). Menurut editornya, Zainun Ahmadi dan Helmi Hidayat (Sekjen dan salah seorang Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia) lebih merupakan upaya untuk menarik sebanyak mungkin tokoh Islam dan seluas mungkin cakupan representasi kelompok Islam. Sekalipun kategori yang dibuat cair (awalnya ada nama-nama pendakwah AA Gym dan Ary Ginanjar) kendala tetap dijumpai. Umumnya hanya disebabkan alasan teknis, misalnya, sedang menunaikan ibadah haji. Atau Abdurrahman Wahid dan Jalaluddin Rakhmat ketika proses pengerjaan buku ini sedang dalam kondisi perawatan karena sakit.
Layaknya kado tentu diniatkan untuk menyenangkan hati penerimanya, dalam hal ini, TK, suami mantan orang nomor satu RI Megawati Sekarnoputri. Tetapi apakah karena niat untuk menyenangkan hati lantas buku ini sekadar deretan panjang pujapuji? Ternyata, sama sekali tidak.
Abu Bakar Baasyir lain lagi. Tokoh yang dibebaskan pada masa Presiden Megawati dari tuntutan hukum dalam kasus terorisme yang dulu menghebohkan ini, tidak menyangsikan keislaman TK karena secara kultural layaknya orang Sumatera mewarisi nilai-nilai itu. Namun, tokoh kharismatis Pondok Pesantren Ngruki, Solo, itu mengingatkan, merupakan sebuah kekeliruan bila Baitul Muslimin yang kelahirannya berkat dorongan TK hanya dijadikan kendaraan politik PDI Perjuangan.
Benang merah buku berjudul Taufiq Kiemas di Mata Tokoh Islam ini memang isu jalinan keislaman dan Kebangsaan (baca: keindonesiaan). Politisi nasionalis yang memiliki fungsi stategis sebagai ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan itu memang tidak sedang bermainmain atas keberadaan Baitul Muslimin. Organisasi sayap partai itu adalah salah satu bentuk pembuktian TK bahwa terhadap isu Islam-Nasionalis, ia tidak serta-merta puas dan berhenti sebatas wacana.
Baitul Muslimin berikhtiar menghimpun semua kelompok Islam yang sejauh ini direpresentasikan melalui personel pengurusnya. Kalaupun tidak semua organisasi Islam tertampung -tidak atau belum mau bergabung- aktivitasnya ditujukan menjadi perekat. Agar Islam tidak mudah dijebak perspekstif yang sempit dan melupakan bahwa mereka berada dalam rumah besar yang sama:
Begitulah sejarah TK, pria kelahiran Jakarta 31 Desember 1942 dengan nama Taftavian Kiemas. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan Islam taat keluarga Masyumi, partai politik Islam yang dulu sangat berpengaruh. Tetapi TK muda mencoba menemukan jati dirinya sendiri. Ketika mahasiswa menempa dirinya melalui GMNI, organisasi kemahasiswaan yang berideologikan nasionalis. Ayahnya, putra
Pemaknaan seperti itu tentu saja merujuk atas apa yang kini dapat kita lihat sebagai yang senantiasa diperjuangkan TK. Sebagai nasionalis, ia melihat persolaan krusial yang senantiasa dihadapi bangsa dan tanah airnya adalah soal keindonesiaan. Dalam peta kultural dan politik apa yang didefinsikan sebagai keindonesiaan tidak mungkin menanggalkan entitas Islam. Sekali lagi, dalam konfigurasi
Sumber : Dari Sini